Sabtu, 21 Juni 2014

Suaraku, Mengapa Tak Semerdu Mereka?

Pelajaran kesenian? Itu salah satu pelajaran favorit di kelasku, karena santai dan tidak banyak menguras otak untuk berfikir. Semester ini kami mendapat pelajaran mengenai menyanyi, mulai dari not angka, not balok, dan berbagai notasi musik lainnya, yang jelas saya not understand lah. Hampir seluruh murid di kelas riang saat pelajaran ini, bersenandung dengan merdu nan percaya diri, berebutan untuk menampilkan kemampuannya di depan kelas. Luar biasa mereka, luar biasa membuatku iri. Aku memang suka mendengarkan lagu, suka menyanyi, tapi nyanyianku hanya bergema di istanaku, ya di kamarku sendiri. Di depan umum, minimal di depan kelas sumbang sudah suaraku, begitu buruk ku rasa. Entah mengapa, aku selalu gugup, selalu mati gaya, tak bisa bersuara selayaknya disaat aku bernyanyi dan bergaya didepan penonton setiaku, ya cermin lemariku.

Oh iya, di sekolahku ada ekskul Paduan Suara. Tim Paduan Suara sekolahku sudah sering menang lomba, sering tampil di berbagai acara besar pula, tak terlewat setiap ada event Pentas Seni Sekolah, mereka seolah bintang tamu yang penampilannya menjadi kejutan yang dinantikan oleh semua penonton. Betapa keren dan terkenal murid yang menjadi anggota Paduan Suara, banyak orang mengagumi mereka karena suara mereka yang mengalun begitu merdu nan indahnya. Andaikan suaraku seindah mereka, andaikan aku bagian dari mereka, andaikan saja. Tapi aku realistis, itu pengandaian yang berlebihan, suaraku saja sangat standar, terlebih aku tidak biasa bernyanyi dihadapan orang lain. Jangankan didepan kelas, baru sekedar bersenandung dan bernyanyi bersama teman-teman di kelas saat jam istirahat saja, aku menutup rapat mulutku, hanya menjadi pendengar dan ikut tertawa dalam canda mereka.

Di sekolah juga ada ekskul Band, banyak sekali group band yang terbentuk, bahkan kelasku pun tak mau kalah, ada band yang personilnya murid-murid kelasku. Sebagian besar band di sekolahku personilnya semua laki-laki kecuali vokalis yang diisi satu atau dua orang perempuan. Karena sering ada event Pensi sekolah, para band pasti unjuk kebolehan disana. Nah, biasanya setelah itu pasti vokalis perempuan itu populer, tak hanya di angkatanku bahkan populer di angkatan diatasku. Mereka populer, dekat dengan banyak orang dan dibicarakan banyak orang. Andaikan aku perempuan itu, yang suaranya indah, gaul, punya band dan jadi cewek populer. Yah, tak mungkin ku rasa, cukuplah aku sekedar jadi rakyat biasa di sekolah.

Sungguh ada rasa iri yang bergelora di hati ini, rasa kesal atas kekurangan ini. Ya Allah, mengapa suaraku tak semerdu mereka? Mengapa aku tak bisa bernyanyi dengan bagus di depan banyak orang? Mengapa aku tak bukan vokalis band? Mengapa aku bukan cewek populer? Mengapa aku tak seperti mereka? Mungkin kata mengapa sudah terlalu banyak ku luapkan, rasa kesal, rasa iri hati, bahkan mungkin sempat benci pada diriku sendiri. Setelah sekian lama aku terbuai dengan berbagai kata mengapa di hatiku, sekian lama hatiku ternodai oleh perasaan-perasaan itu. Kini, ku temukan jawabnya, jawab atas seluruh pertanyaanku pada Allah. Bahwa itu semua hanyalah rasa tidak bersyukur ku pada-Nya. Semua ilusi keindahan dunia, rasa indah sesaat yang sangat menggiurkan untuk dinikmati saat itu, perasaan iri yang bergelora di hatiku telah menipuku, menutup mata hatiku atas rahmat Allah. Semua yang saat itu ku anggap sebagai kekurangan diri ini, sekarang aku malah sangat mensyukurinya. Mengapa? Karena Allah Menyayangiku. Allah hanya ingin menjagaku saat itu, saat aku masih sangat lemah untuk memahami dan mensyukuri semua ini.

Aku seolah terbangun dari tidur panjangku, aku tersadar, hati ini mulai berbicara untuk menyadarkanku bahwa memang sudah seharusnya aku menjaga suaraku, bukan berarti aku tak bersuara tetapi suara  yang disenandungkan di hadapan banyak lelaki memang sudah selayaknya dihindari, karena di khawatirkan bisa menimbulkan syahwat bagi yang mendengarkan dan fitnah untuk kita para wanita. Jadi cewek populer? Sungguh baru sekarang ku rasa, menjadi cewek populer, dikagumi banyak lelaki adalah ujian yang sangat berat, karena kita sebagai wanita sudah selayaknya menjaga firah kita, menjaganya untuk seseorang yang namanya telah terukir indah di Lauhul Mahfudz. Selain itu, pergaulan antara lelaki dan wanita selayaknya memang dibatasi. Aku tau, dalam praktiknya memang sulit dilakukan, maka itulah ujian kita. Ujian? Ujian tanda bahwa Allah masih menyayangi kita, ujian membawa diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, membawa diri kita untuk belajar dan mengambil hikmah atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Ternyata semua yang dulu ku rasa indah, semua hal yang dulu yang ingin ku miliki, ku sadari itu semua adalah ujian yang sangat berat.

Teruntuk teman-temanku, semua saudariku tercinta maafkan aku telah menyimpan rasa iri hati padamu. Sungguh aku menyesalinya saat ini, maafkan aku yang baru tersadar bahwa menjadi kalian, yang bersuara merdu nan indah, dikagumi banyak lelaki, menjadi populer bukanlah sesuatu yang mudah. Seharusnya, aku tak iri pada kalian, seharusnya aku berada di samping kalian, dan seharusnya kita bersama saling mengingatkan untuk tidak terlena atas keindahan dunia ini, saling mengingatkan untuk terus bersyukur kepada Allah, dan saling menjaga satu sama lain, wahai saudariku. Ku rasa ujian kalian jauh lebih berat dariku, aku yang diuji dengan rasa iri hati atas kalian saja butuh waktu yang sangat lama untuk menyadari bahwa aku hanya kurang bersyukur, imanku masih sangat lemah ku rasa. Saat ini, hanya doa yang bisa ku panjatkan untuk kalian agar senantiasa selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin.

Kemana sajakah aku selama ini? Mengapa aku baru menyadarinya? Apakah hatiku telah mati? Atau kah aku yang tak peka atas suara hatiku? Ku rasa, Allah selalu ingin menjagaku, mengingatkanku melalui hati ini, akan tetapi semua keindahan dunia yang semu ini telah merayuku, membuaiku untuk terlena terlalu lama didalamnya. Aku rasa aku terlalu naif untuk menyadarinya saat itu, aku yang selalu mengingkari suara hati ini seolah apa yang aku inginkan adalah sesuatu yang benar dan baik buatku. Hatiku, maafkan aku yang seolah telah menutup pendengaranku atas suaramu. Maafkan aku ya Allah, yang tak mensyukuri nikmat dan karuniamu, maafkan aku atas semua kesalahku. Terima kasih ya Allah atas semua kekurangan yang dulu kurasakan sebagai suatu keburukan, padahal semua kekurangan itu seolah sebuah permata untukku saat ini.

Sekarang? Aku rasa aku belum cukup baik, mungkin masih jauh dari kata baik, masih banyak yang harus ku perbaiki atas diriku ini, aku akan terus berusaha menjadi lebih baik lagi. Aku hanya ingin bersyukur kepada Allah atas apa yang kumiliki saat ini. Aku tak ingin seperti dulu. Aku hanya tak ingin menyesali semua dikemudian hari. Aku akan mendengarkan suara hatiku, tak mengingkari kebenaran yang dikatakan hati ini. Ketika dihati ini kembali muncul kata “Mengapa?” seperti dulu, jawabnya “Karena Allah Menyayangiku”.