Pelajaran
kesenian? Itu salah satu pelajaran favorit di kelasku, karena santai dan tidak
banyak menguras otak untuk berfikir. Semester ini kami mendapat pelajaran
mengenai menyanyi, mulai dari not angka, not balok, dan berbagai notasi musik
lainnya, yang jelas saya not understand lah. Hampir seluruh murid di kelas
riang saat pelajaran ini, bersenandung dengan merdu nan percaya diri, berebutan
untuk menampilkan kemampuannya di depan kelas. Luar biasa mereka, luar biasa
membuatku iri. Aku memang suka mendengarkan lagu, suka menyanyi, tapi
nyanyianku hanya bergema di istanaku, ya di kamarku sendiri. Di depan umum,
minimal di depan kelas sumbang sudah suaraku, begitu buruk ku rasa. Entah
mengapa, aku selalu gugup, selalu mati gaya, tak bisa bersuara selayaknya
disaat aku bernyanyi dan bergaya didepan penonton setiaku, ya cermin lemariku.
Oh iya,
di sekolahku ada ekskul Paduan Suara. Tim Paduan Suara sekolahku sudah sering
menang lomba, sering tampil di berbagai acara besar pula, tak terlewat setiap
ada event Pentas Seni Sekolah, mereka seolah bintang tamu yang penampilannya menjadi
kejutan yang dinantikan oleh semua penonton. Betapa keren dan terkenal murid
yang menjadi anggota Paduan Suara, banyak orang mengagumi mereka karena suara
mereka yang mengalun begitu merdu nan indahnya. Andaikan suaraku seindah
mereka, andaikan aku bagian dari mereka, andaikan saja. Tapi aku realistis, itu
pengandaian yang berlebihan, suaraku saja sangat standar, terlebih aku tidak
biasa bernyanyi dihadapan orang lain. Jangankan didepan kelas, baru sekedar
bersenandung dan bernyanyi bersama teman-teman di kelas saat jam istirahat saja,
aku menutup rapat mulutku, hanya menjadi pendengar dan ikut tertawa dalam canda
mereka.
Di
sekolah juga ada ekskul Band, banyak sekali group band yang terbentuk, bahkan
kelasku pun tak mau kalah, ada band yang personilnya murid-murid kelasku.
Sebagian besar band di sekolahku personilnya semua laki-laki kecuali vokalis
yang diisi satu atau dua orang perempuan. Karena sering ada event Pensi sekolah, para band pasti
unjuk kebolehan disana. Nah, biasanya setelah itu pasti vokalis perempuan itu
populer, tak hanya di angkatanku bahkan populer di angkatan diatasku. Mereka
populer, dekat dengan banyak orang dan dibicarakan banyak orang. Andaikan aku
perempuan itu, yang suaranya indah, gaul, punya band dan jadi cewek populer.
Yah, tak mungkin ku rasa, cukuplah aku sekedar jadi rakyat biasa di sekolah.
Sungguh
ada rasa iri yang bergelora di hati ini, rasa kesal atas kekurangan ini. Ya
Allah, mengapa suaraku tak semerdu mereka? Mengapa aku tak bisa bernyanyi
dengan bagus di depan banyak orang? Mengapa aku tak bukan vokalis band? Mengapa
aku bukan cewek populer? Mengapa aku tak seperti mereka? Mungkin kata mengapa
sudah terlalu banyak ku luapkan, rasa kesal, rasa iri hati, bahkan mungkin
sempat benci pada diriku sendiri. Setelah sekian lama aku terbuai dengan
berbagai kata mengapa di hatiku, sekian lama hatiku ternodai oleh perasaan-perasaan
itu. Kini, ku temukan jawabnya, jawab atas seluruh pertanyaanku pada Allah.
Bahwa itu semua hanyalah rasa tidak bersyukur ku pada-Nya. Semua ilusi
keindahan dunia, rasa indah sesaat yang sangat menggiurkan untuk dinikmati saat
itu, perasaan iri yang bergelora di hatiku telah menipuku, menutup mata hatiku
atas rahmat Allah. Semua yang saat itu ku anggap sebagai kekurangan diri ini,
sekarang aku malah sangat mensyukurinya. Mengapa? Karena Allah Menyayangiku.
Allah hanya ingin menjagaku saat itu, saat aku masih sangat lemah untuk
memahami dan mensyukuri semua ini.
Aku
seolah terbangun dari tidur panjangku, aku tersadar, hati ini mulai berbicara
untuk menyadarkanku bahwa memang sudah seharusnya aku menjaga suaraku, bukan
berarti aku tak bersuara tetapi suara
yang disenandungkan di hadapan banyak lelaki memang sudah selayaknya
dihindari, karena di khawatirkan bisa menimbulkan syahwat bagi yang
mendengarkan dan fitnah untuk kita para wanita. Jadi cewek populer? Sungguh
baru sekarang ku rasa, menjadi cewek populer, dikagumi banyak lelaki adalah
ujian yang sangat berat, karena kita sebagai wanita sudah selayaknya menjaga
firah kita, menjaganya untuk seseorang yang namanya telah terukir indah di Lauhul
Mahfudz. Selain itu, pergaulan antara lelaki dan wanita selayaknya memang
dibatasi. Aku tau, dalam praktiknya memang sulit dilakukan, maka itulah ujian
kita. Ujian? Ujian tanda bahwa Allah masih menyayangi kita, ujian membawa diri
kita untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, membawa diri kita untuk belajar dan
mengambil hikmah atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Ternyata
semua yang dulu ku rasa indah, semua hal yang dulu yang ingin ku miliki, ku
sadari itu semua adalah ujian yang sangat berat.
Teruntuk
teman-temanku, semua saudariku tercinta maafkan aku telah menyimpan rasa iri hati
padamu. Sungguh aku menyesalinya saat ini, maafkan aku yang baru tersadar bahwa
menjadi kalian, yang bersuara merdu nan indah, dikagumi banyak lelaki, menjadi populer
bukanlah sesuatu yang mudah. Seharusnya, aku tak iri pada kalian, seharusnya
aku berada di samping kalian, dan seharusnya kita bersama saling mengingatkan
untuk tidak terlena atas keindahan dunia ini, saling mengingatkan untuk terus
bersyukur kepada Allah, dan saling menjaga satu sama lain, wahai saudariku. Ku
rasa ujian kalian jauh lebih berat dariku, aku yang diuji dengan rasa iri hati
atas kalian saja butuh waktu yang sangat lama untuk menyadari bahwa aku hanya
kurang bersyukur, imanku masih sangat lemah ku rasa. Saat ini, hanya doa yang
bisa ku panjatkan untuk kalian agar senantiasa selalu berada dalam
lindungan-Nya. Aamiin.
Kemana
sajakah aku selama ini? Mengapa aku baru menyadarinya? Apakah hatiku telah
mati? Atau kah aku yang tak peka atas suara hatiku? Ku rasa, Allah selalu ingin
menjagaku, mengingatkanku melalui hati ini, akan tetapi semua keindahan dunia
yang semu ini telah merayuku, membuaiku untuk terlena terlalu lama didalamnya. Aku
rasa aku terlalu naif untuk menyadarinya saat itu, aku yang selalu mengingkari
suara hati ini seolah apa yang aku inginkan adalah sesuatu yang benar dan baik
buatku. Hatiku, maafkan aku yang seolah telah menutup pendengaranku atas
suaramu. Maafkan aku ya Allah, yang tak mensyukuri nikmat dan karuniamu,
maafkan aku atas semua kesalahku. Terima kasih ya Allah atas semua kekurangan
yang dulu kurasakan sebagai suatu keburukan, padahal semua kekurangan itu
seolah sebuah permata untukku saat ini.
Sekarang?
Aku rasa aku belum cukup baik, mungkin masih jauh dari kata baik, masih banyak
yang harus ku perbaiki atas diriku ini, aku akan terus berusaha menjadi lebih
baik lagi. Aku hanya ingin bersyukur kepada Allah atas apa yang kumiliki saat
ini. Aku tak ingin seperti dulu. Aku hanya tak ingin menyesali semua dikemudian
hari. Aku akan mendengarkan suara hatiku, tak mengingkari kebenaran yang
dikatakan hati ini. Ketika dihati ini kembali muncul kata “Mengapa?” seperti
dulu, jawabnya “Karena Allah Menyayangiku”.